Pages

Friday, November 29, 2019

Tahukah Anda Siapa PNS Pertama di Indonesia? Ternyata Ini Dia

Jakarta, CNBC Indonesia - Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2014 ASN atau Aparatur Sipil Negara adalah profesi Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bekerja pada instansi pemerintah.

Saat ini pemerintah tengah membuka lowongan bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun, tahukah anda siapa yang menjadi PNS pertama di Indonesia?

"Tahukah sedulur, bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah PNS pertama di Indonesia dengan NIP (Nomor Induk Pegawai) 010000001. Apakah sedulur sudah siap untuk mengabdi dan menjadi ASN di Pemda DIY?" demikian tulis keterangan resmi Humas Jogja.


Tahukah Anda Siapa PNS Pertama di Indonesia? Ternyata Ini DiaFoto: PNS Pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Twitter)

Ya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan PNS pertama di Indonesia. Ia diangkat oleh Alm. A.E Manihuruk sebagai PNS pertama di Indonesia. A.E Manihuruk merupakan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara yang saat itu statusnya bukan PNS, karena Kepala Badan kebanyakan berasal dari Pejuang, Tentara atau Politikus.

PNS kini merupakan pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(dru)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/33zP3Kc
via IFTTT

Thursday, November 28, 2019

Kesepakatan Dagang Tak Jelas, Indeks Shanghai Dibuka Turun

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham China dan Hong Kong mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (28/11/2019), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai turun 0,13% ke level 2.885,97, sementara indeks Hang Seng jatuh 0,7% ke level 26.705,38.

Dukungan yang ditunjukkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap demonstrasi di Hong Kong menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham China dan Hong Kong. Pada hari Rabu waktu setempat (27/11/2019), Trump resmi menandatangani dua RUU terkait demonstrasi di Hong Kong yang pada intinya memberikan dukungan bagi para demonstran di sana.


RUU pertama akan memberikan mandat bagi Kementerian Luar Negeri AS untuk melakukan penilaian terkait dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Hong Kong dalam mengatur wilayahnya sendiri. Jika China terlalu banyak mengintervensi Hong Kong sehingga membuat kekuasaan untuk mengatur wilayahnya sendiri menjadi lemah, status spesial yang kini diberikan oleh AS terhadap Hong Kong di bidang perdagangan bisa dicabut.

Untuk diketahui, status spesial yang dimaksud membebaskan Hong Kong dari bea masuk yang dibebankan oleh AS terhadap produk-produk impor asal China. RUU pertama tersebut juga membuka kemungkinan dikenakannya sanksi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Hong Kong.

Sementara itu, RUU kedua akan melarang penjualan dari perlengkapan yang selama ini digunakan pihak kepolisian Hong Kong dalam menghadapi demonstran, gas air mata dan peluru karet misalnya.

Lantas, dukungan yang diberikan oleh Trump terhadap demonstran di Hong Kong berpotensi membuat kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China menjadi gagal diteken. Sebelumnya, China menyebut bahwa digolkannya dua RUU terkait demonstrasi di Hong Kong oleh Kongres AS sebagai campur tangan dari pihak AS terhadap urusan domestik China.

Bahkan, China sudah kembali menunjukkan kemurkaannya pasca Trump menandatangani dua RUU terkait demonstrasi di Hong Kong. Kemarin, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa AS memiliki niat jahat dan skenario yang saat ini sedang dimainkan oleh AS akan gagal.

Sejauh ini AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$ 500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$ 110 miliar.

Jika kesepakatan dagang tahap satu gagal diteken, perputaran roda perekonomian AS dan China, berikut dengan perputaran roda perekonomian dunia, akan menjadi semakin lambat.

Lebih lanjut, rilis data ekonomi China yang mengecewakan ikut menjadi faktor yang membebani kinerja bursa saham China dan Hong Kong. Pada hari Rabu, laba dari perusahaan-perusahaan industri di China diumumkan terkontraksi sebesar 2,9% secara tahunan untuk periode Januari-Oktober 2019, jauh lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada periode Januari-September 2019 yang hanya sebesar 2,1%.

Pada hari ini, tidak ada data ekonomi yang dijadwalkan dirilis di China dan Hong Kong.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/33pWLqd
via IFTTT